RAJAWALI KU TELAH PERGI
w
|
aktu begitu cepat, tidak terasa
kini umurku memasuki usia 13 tahun. Nama ku Jessica Phoibe biasa di panggil
Jessica anak ke 2 dari 2 bersaudara,
kakak ku laki-laki. Hari ini tepat ulang tahun ku yang ke 13 bertepatan
pula dengan hari Pahlawan yaitu 10
November, tidak terasa aku memasuki masa remaja. Kalau mengingat dan melihat foto
masih bayi aku masih lucu dan imut-imutnya (bukannya kepedean tapi emang bener)
He he he he :D :D . Banyak kenangan ku dengan
kakek di foto itu, aku memanggil kakek dengan sebutan “kakek jagoan” karena dia
jagoan buat ku walaupun keras tapi dia tegas, walaupun jarak dan waktu yang
memisahkan kita karena beliau berada di kota Siantar, Sumatera Utara dan aku
sendiri di Bekasi, Jawa Barat tapi kita tidak pernah lupa untuk berkomunikasi.
Sesekali, kakek main ke Bekasi untuk berkunjung atau karena ada acara keluarga
disini, karena rumah ku dekat dengan kolam berenang kakek selalu mengajak untuk
berenang dan mengajarkan ku pula bagaimana berenang yang baik, aku ingat betul
kenangan itu bersama kakek. Kakek juga mengajak ku bernyanyi yang entah
terkadang aku tidak mengerti dengan bahasa daerah orang batak He he he he.
Beliau selalu ingat dengan segala hal, seperti ulang tahun kami . Begitupun
dengan ku , kakek selalu memberi ucapan walau hanya via telepon tapi aku senang
karena itu merupakan hadiah terbaik
untukku. Kehidupan dan aktivitas ku, aku jalankan dengan biasa tanpa ada
firasat buruk apapun, malam sebelum ulang tahun pun aku tidak merasakan apapun
aku hanya ingat kalo besok aku ulang tahun dan kakek pasti tidak lupa menelpon
ku. Ketika hari ulang tahun ku tiba “MAMA” adalah orang pertama yang memberi
ucapan untuk ku.
“ Selamat Ulang Tahun, Nak “ ucap
mamaku yang kebetulan ingin pergi kerja juga
“ iya “ jawab ku setengah sadar
“ iya “ jawab ku setengah sadar
Seperti yang ku katakan aku menjalan kan aktivitas ku seperti biasa,
pukul 06.30 aku dan kakakku bersiap untuk pergi kesekolah, tiba- tiba..
“ opung (kakek) siantar meninggal
“ kata ayahku yang baru selesai mendapat telepon dari mama ku.
Aku tersontak kaget dan tak
percaya aku hanya bisa berkata “ ah masa sih, jangan bohong “
“ tidak, ini beneran “ ayah ku
menjawab pertanyaan ku itu
Di situ aku sadar dan tidak
mungkin kalo ayah ku bercanda seperti ini, air mata ku pun jatuh . Jujur aku kecewa aku hanya berbicara
dalam hati “ mengapa aku mendapat berita buruk di hari ulang tahun ku dan
disaat aku menunggu telepon dari kakek?? “
Mungkin hanya Tuhan yang bisa
menjawab dan tau jawaban nya.
Mama ku yang tadi sudah berangkat
kerja duluan dan sudah di tengah perjalanan pun pulang dan aku juga kakak ku
pun tidak jadi berangkat sekolah, kami
izin untuk beberapa hari. Setelah itu kami memesan tiket untuk berangkat pada
malam hari bersama dengan beberapa adik mama ku yang tinggal di Bekasi dan Jakarta dan juga para sepupu ku. Di malam
hari kami mau ke bandara pun ada saja kejadian terburu-buru akibat macet tapi
untung saja masih di tunggu untuk masuk ke pesawat karena rombongan kami yg
lumayan banyak.
Pukul 01.45…
Sampai di Medan kami di jemput om
yang kebetulan kerja di sana, kami pergi ke siantar . Sesampai di siantar tepat
di rumah kakek ku sudah ada beberapa keluarga disana, sontak mama ku langsung
lari untuk masuk kedalam dan aku hanya bisa diam melihat kakek ku yang sedang
tertidur pulas untuk selamanya dan jujur aku sulit menahan nangis. Aku masih
tak percaya bahwa orang yang di kasur itu adalah kakek ku, tak seperti biasa
setiap kami pulang ke siantar dan ke rumah kakek, kakek selalu menunggu kami
sambil duduk diteras dan sekarang tidak ada lagi yang menunggu kedatangan kami.
“ Selamat ulang tahun, mungkin
ini rencana Tuhan buat kita “ itu ucap tante kepada ku
11 November 2009….
Silih berganti orang pada datang
kerumah kakek mulai dari tetangga, keluarga untuk memberi sepatah dua kata bela
sungkawa kepada kami.
12-14 November 2009…
Ya inilah adat kami “adat
batak”. Orang memang melihat nya terlalu
sulit dan lama tapi ini harus kami jalani karena dari lahir sampai meninggal
suku batak memiliki adat yang harus di lakukan , selama beberapa hari kami
sekeluarga melakukan acara adat untuk symbol dan pemberian terakhir kami untuk
kakek kami. Ini yang aku banggakan dari kakek ku ternyata bukan cuman aku yang
menganggap nya tegas dan berwibawa tetapi tetangga, keluarga, pihak sekolah
yang dulu kakek ku pernah mengajar disana dan juga rekan- rekan gereja
menganggap kakek ku seperti itu, walau memang dia keras kepala tapi aku selalu
bangga dengan nya.
15 November 2015…
Ini adalah akhir dari acara kami
yaitu mengantar kan kakek ke rumah terakhir nya di Pilipi, Samosir, Sumatera
Utara dengan menyebrangi danau toba menggunakan kapal fery.
Selesai sudah semua, kami sudah menjalan kan tugas kami dengan
baik dari acara adat sampai mengantarkan nya ke rumah terakhirnya. Kami kembali
lagi ke Siantar, terasa berbeda bagi ku, semua terasa sepi walau keadaannya
banyak orang . Tapi apa mau kita lakukan ini semua rencana Tuhan.
Hampir 6 tahun sudah kakek pergi
meninggalkan kita, tidak ada lagi yang menunggu kami jika pulang ke Siantar,
tidak ada lagi yang mengajari ku berenang dan tidak ada lagi yang menelpon ku
untuk bertanya kabar. Tetapi tidak akan pernah aku lupakan semua nasehat kakek
kepada kami. Om pernah berkata kepada
kami sebelum kakek meninggal, dia bermimpi melihat burung rajawali terbang di
depan rumah kakek dan mungkin ini isyarat dan tanda untuk kami bahwa rajawali
kami akan terbang untuk kembali.
AKU RINDU DENGAN MU, RAJAWALI KU
Oleh :
Jessica Phoibe