Senin, 06 April 2015

Rajawali Ku Telah Pergi



RAJAWALI KU TELAH PERGI


w
aktu begitu cepat, tidak terasa kini umurku memasuki usia 13 tahun. Nama ku Jessica Phoibe biasa di panggil Jessica anak ke 2 dari 2 bersaudara,  kakak ku laki-laki. Hari ini tepat ulang tahun ku yang ke 13 bertepatan pula  dengan hari Pahlawan yaitu 10 November, tidak terasa aku memasuki masa remaja. Kalau mengingat dan melihat foto masih bayi aku masih lucu dan imut-imutnya (bukannya kepedean tapi emang bener) He he he he :D :D . Banyak kenangan ku dengan kakek di foto itu, aku memanggil kakek dengan sebutan “kakek jagoan” karena dia jagoan buat ku walaupun keras tapi dia tegas, walaupun jarak dan waktu yang memisahkan kita karena beliau berada di kota Siantar, Sumatera Utara dan aku sendiri di Bekasi, Jawa Barat tapi kita tidak pernah lupa untuk berkomunikasi. Sesekali, kakek main ke Bekasi untuk berkunjung atau karena ada acara keluarga disini, karena rumah ku dekat dengan kolam berenang kakek selalu mengajak untuk berenang dan mengajarkan ku pula bagaimana berenang yang baik, aku ingat betul kenangan itu bersama kakek. Kakek juga mengajak ku bernyanyi yang entah terkadang aku tidak mengerti dengan bahasa daerah orang batak He he he he. Beliau selalu ingat dengan segala hal, seperti ulang tahun kami . Begitupun dengan ku , kakek selalu memberi ucapan walau hanya via telepon tapi aku senang karena itu merupakan hadiah  terbaik untukku. Kehidupan dan aktivitas ku, aku jalankan dengan biasa tanpa ada firasat buruk apapun, malam sebelum ulang tahun pun aku tidak merasakan apapun aku hanya ingat kalo besok aku ulang tahun dan kakek pasti tidak lupa menelpon ku. Ketika hari ulang tahun ku tiba “MAMA” adalah orang pertama yang memberi ucapan untuk ku.
“ Selamat Ulang Tahun, Nak “ ucap mamaku yang kebetulan ingin pergi kerja juga
“ iya “                                                  jawab ku setengah sadar
Seperti yang ku katakan  aku menjalan kan aktivitas ku seperti biasa, pukul 06.30 aku dan kakakku bersiap untuk pergi kesekolah,  tiba- tiba..
“ opung (kakek) siantar meninggal “ kata ayahku yang baru selesai mendapat telepon dari mama ku.
Aku tersontak kaget dan tak percaya aku hanya bisa berkata “ ah masa sih, jangan bohong “
“ tidak, ini beneran “ ayah ku menjawab pertanyaan ku itu
Di situ aku sadar dan tidak mungkin kalo ayah ku bercanda seperti ini, air mata ku pun  jatuh . Jujur aku kecewa aku hanya berbicara dalam hati “ mengapa aku mendapat berita buruk di hari ulang tahun ku dan disaat aku menunggu telepon dari kakek?? “
Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab dan tau jawaban nya.
Mama ku yang tadi sudah berangkat kerja duluan dan sudah di tengah perjalanan pun pulang dan aku juga kakak ku pun tidak jadi berangkat sekolah,  kami izin untuk beberapa hari. Setelah itu kami memesan tiket untuk berangkat pada malam hari bersama dengan beberapa adik mama ku yang tinggal di Bekasi  dan Jakarta dan juga para sepupu ku. Di malam hari kami mau ke bandara pun ada saja kejadian terburu-buru akibat macet tapi untung saja masih di tunggu untuk masuk ke pesawat karena rombongan kami yg lumayan banyak. 

Pukul 01.45…
Sampai di Medan kami di jemput om yang kebetulan kerja di sana, kami pergi ke siantar . Sesampai di siantar tepat di rumah kakek ku sudah ada beberapa keluarga disana, sontak mama ku langsung lari untuk masuk kedalam dan aku hanya bisa diam melihat kakek ku yang sedang tertidur pulas untuk selamanya dan jujur aku sulit menahan nangis. Aku masih tak percaya bahwa orang yang di kasur itu adalah kakek ku, tak seperti biasa setiap kami pulang ke siantar dan ke rumah kakek, kakek selalu menunggu kami sambil duduk diteras dan sekarang tidak ada lagi yang menunggu kedatangan kami.
“ Selamat ulang tahun, mungkin ini rencana Tuhan buat kita “ itu ucap tante kepada ku

11 November 2009….
Silih berganti orang pada datang kerumah kakek mulai dari tetangga, keluarga untuk memberi sepatah dua kata bela sungkawa kepada kami.

12-14 November 2009…
Ya inilah adat kami “adat batak”.  Orang memang melihat nya terlalu sulit dan lama tapi ini harus kami jalani karena dari lahir sampai meninggal suku batak memiliki adat yang harus di lakukan , selama beberapa hari kami sekeluarga melakukan acara adat untuk symbol dan pemberian terakhir kami untuk kakek kami. Ini yang aku banggakan dari kakek ku ternyata bukan cuman aku yang menganggap nya tegas dan berwibawa tetapi tetangga, keluarga, pihak sekolah yang dulu kakek ku pernah mengajar disana dan juga rekan- rekan gereja menganggap kakek ku seperti itu, walau memang dia keras kepala tapi aku selalu bangga dengan nya. 

15 November 2015…
Ini adalah akhir dari acara kami yaitu mengantar kan kakek ke rumah terakhir nya di Pilipi, Samosir, Sumatera Utara dengan menyebrangi danau toba menggunakan kapal fery.
Selesai sudah semua,  kami sudah menjalan kan tugas kami dengan baik dari acara adat sampai mengantarkan nya ke rumah terakhirnya. Kami kembali lagi ke Siantar, terasa berbeda bagi ku, semua terasa sepi walau keadaannya banyak orang . Tapi apa mau kita lakukan ini semua rencana Tuhan.

Hampir 6 tahun sudah kakek pergi meninggalkan kita, tidak ada lagi yang menunggu kami jika pulang ke Siantar, tidak ada lagi yang mengajari ku berenang dan tidak ada lagi yang menelpon ku untuk bertanya kabar. Tetapi tidak akan pernah aku lupakan semua nasehat kakek kepada kami. Om pernah  berkata kepada kami sebelum kakek meninggal, dia bermimpi melihat burung rajawali terbang di depan rumah kakek dan mungkin ini isyarat dan tanda untuk kami bahwa rajawali kami akan terbang untuk kembali. 

AKU RINDU DENGAN MU, RAJAWALI KU


Oleh :
Jessica Phoibe


Tidak ada komentar:

Posting Komentar